Benarkah Nabi Muhammad Pernah Melakukan ForePlay



Jika beberapa agama melarang pemuka agama tersebut untuk menikah dengan alasan agar kekhusyukan ibadah tidak terganggu dan bertujuan agar padanya menempel gelar sebagai manusia mulia, dalam Islam justru sebaliknya. Orang yang paling mulia yakni Rasulullah saw justru menganjurkan ummatnya agar menikah. Sungguh kita patut bersyukur dengan keimanan dan ke-Islaman kita , karena Islam adalah agama yang paling sesuai dengan fitrah manusia. Seluruh makhluk hidup, tak hanya manusia, tapi juga binatang bahkan tumbuhan, memiliki dorongan untuk berproduksi. Karenanya, sungguh terlalu jika sampai  melarang manusia untuk menikah dan berhubungan seksual, sementara  Allah-lah yang menganugerahkan naluri itu.


Al –Allamah Ad-Dimyati dalam I’anah ath-Thalibin mengatakan, lidah seorang istri itu dapat mengundang kenikmatan dengan mengisap dan menyentuhnya. Sebagaimana riwayat sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai lidah Aisyah yang beliau isap. Mengisap lidah, saling menggigit (dengan lembut), menjilay dan sentuhan-sebtuhan lembut memang menambah volume gelora syahwat, khusunya ketika bersetubuh (jima’).

Nikmatnya (Pahala) Bersetubuh dengan Istri
Pasangan suami istri, mendapatkan pahala atas hubungan intim yang kalian lakukan apabila kalian meluruskan niat kalian. Dari Abi Dzar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Dan di dalam kemaluan salah seorang di antara kalian adalah sedekah.” -Maksudnya dalam jima’nya (hubungan intim) terhadap istrinya- Maka mereka (Sahabat) berkata:”Wahai Rasulullah! Apakah salah seorang di antara kami mendatangi keluarganya (menunaikan syahwatnya/jima’) dan dia mendapatkan pahala?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berabda:”Bukankah apabila dia menunaikannya (jima’) di tempat yang haram dia akan mendapatkan dosa?” Maka demikian juga seandainya dia menunaikannya di tempat yang halal (istrinya) maka dia akan mendapatkan pahala.”(HR. Muslim)

Maka sungguh luar biasa keutamaan ini, kita bisa menunaikan hajat biologis kita sekaligus mendapatkan nikmat pahala.

ForePlay dalam Islam
Cumbu rayu dan pemanasan (ForePlay) adalah salah satu adab yang hendaknya diperhatikan. Banyak sekali para suami yang tidak memperhatikan masalah ini, yang terpenting bagi mereka hanyalah menunaikan syahwat dan hasrat mereka saja dan mereka lupa bahwa rayuan dan pemansan (ForePlay) sebelum jima’ memiliki pengaruh yang besar dalam membangkitkan syahwat istri dan meningkatkan keingannya untuk berhubungan intim supaya dia (istri) benar-benar siap untuk jima’ dan berbagi kenikmatan jima’ dengan suaminya. Adapun apabila sang suami langsung berjima’ tanpa melakukan ForePlay, bisa jadi dia telah selesai menunaikan syahwatnya sedangkan istrinya belum sampai pada puncak kenikmatan atau belum mendapatkannya.
Dan termasuk bentuk cumbu rayu adalah berciuman, memainkan dada (payudara), dan bersentuhan kulit dengan kulit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu mencium istrinya sebelum jima’. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Jabir radhiyallahu ‘anhu ketika dia menikah dengan janda:

”Kenapa tidak gadis (yang engkau nikahi) sehingga engkau bisa mencumbunya dan dia mencumbumu?” (HR. Biukhari dan Muslim) dan dalam riwayat Muslim:”Engkau bisa mencandainya dan dia mencandaimu?”

Untuk mendapatkan hasil sentuhan yang optimal, seyogyanya suami istri mengetahui dengan baik titik-titik yang mudah membangkitkan gairah pasangan masing-masing. Maka diperlukan sebuah komunikasi terbuka dan santai antara pasangan suami istri, untuk menemukan titik-titik tersebut, agar menghasilkan efek yang maksimal saat berjima’.
Selain itu harus ada kain yang menutupi ketika berjima’. Sekalipun suami istri sudah halal baik melihat dan bahkan bertelanjang bulat, namun Nabi saw menganjurkan ditengah ketelanjangan itu hendaknya ditutupi oleh kain (selimut).

“Dari ‘Atabah bin Abdi As-Sulami bahwa apabila kalian mendatangi istrinya (berjima’), maka hendaklah menggunakan penutup dan janganlah telanjang seperti dua ekor himar “ (HR Ibnu Majah).

Selesai berhubungan mencuci kemaluan dan berwudhu (dahulu) jika ingin mengulanginya lagi. Dari semua itu kita harus keyakinan bahwa berjima antara suami istri merupakan bentuk ibadah! Allohu A’lam

Sumber :
https://salafiyunpad.wordpress.com/2011/02/24/adab-berhubungan-intim-agar-kenikmatannya-berpahala/
http://www.suara-islam.com/read/index/8302/Romantisme-Berpahala--Sudahkah-Sesuai-Sunnah-
https://ghazi01.wordpress.com/2012/12/11/foreplay-mulaabah-saat-mau-berhubungan/
Share on Google Plus

About Heru Purnomo

Aku hanya seorang biasa. Tapi punya rasa. Dibilang biasa juga gak papa. Yang penting bermanfaat buat semua

0 komentar :

Post a Comment